Terbuka di tab baru

Campak: Gejala, Ruam, Tes IgM, dan Kekebalan

Daftar Isi

Anak dengan ruam campak merah di wajah dan dada di samping tabung tes darah

⚕️ Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak menggantikan saran medis. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda untuk menafsirkan hasil Anda.

Campak (juga disebut morbili atau tampek) adalah infeksi virus yang sangat menular. Penyakit ini dimulai seperti pilek berat, dengan demam tinggi, batuk, hidung berair, serta mata merah dan berair, lalu sekitar 3 sampai 5 hari kemudian muncul ruam merah bercak-bercak yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh. Sebagian besar orang sembuh dalam beberapa minggu, tetapi campak dapat menyebabkan pneumonia, radang otak (ensefalitis), dan kematian, terutama pada anak kecil, ibu hamil, dan siapa pun dengan daya tahan tubuh lemah. Belum ada obat antivirus yang menyembuhkannya. Dua dosis vaksin MMR efektif 97% untuk mencegahnya, menurut CDC; di Indonesia perlindungan yang sama diberikan oleh vaksin MR (campak-rubela).

Campak kembali menjadi berita. CDC mencatat 5.182 kasus terkonfirmasi di Amerika Serikat pada 2026 hingga 5 November 2026, setelah 2.289 kasus sepanjang 2025. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 3.400 kasus campak terkonfirmasi dan 46 kejadian luar biasa (KLB) hingga Agustus 2025. Jika Anda demam disertai ruam, pernah terpapar, atau perlu membuktikan kekebalan, tes yang tepat bergantung pada waktunya: swab untuk RT-PCR dan tes darah IgM campak memastikan infeksi yang sedang berlangsung, sedangkan tes IgG memeriksa kekebalan.

Poin penting tentang campak

  • Campak menyebar lewat udara: hingga 9 dari 10 kontak dekat yang tidak kebal akan tertular.
  • Urutan khasnya: demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah, lalu ruam yang mulai di wajah sekitar 14 hari setelah terpapar.
  • Diagnosis: swab hidung atau tenggorokan (RT-PCR), idealnya bersama urine, ditambah tes darah IgM campak. IgG positif saja berarti kebal.
  • Setelah terpapar, satu dosis vaksin dalam 72 jam atau imunoglobulin dalam 6 hari dapat mencegah atau meringankan penyakit.
  • Telepon dulu sebelum datang ke klinik atau puskesmas agar Anda tidak menulari pasien lain.

Apa itu campak?

Campak (rubeola) disebabkan oleh virus campak. Virus ini menginfeksi saluran napas, lalu sel-sel kekebalan, dan menyebar lewat darah ke kulit, paru, hati, dan kadang otak. Karena menyerang sel kekebalan secara langsung, campak melemahkan pertahanan tubuh selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah ruam hilang.

Campak dinyatakan tereliminasi dari Amerika Serikat pada 2000, artinya tidak lagi beredar sepanjang tahun. Virus ini tetap datang bersama pelancong, dan wabah besar terjadi di komunitas dengan cakupan vaksinasi rendah, seperti di Texas, New Mexico, dan Oklahoma pada 2025. Virus dapat bertahan di udara ruangan hingga 2 jam. Sebelum ada vaksin, diperkirakan 48.000 orang Amerika dirawat di rumah sakit dan 400 sampai 500 meninggal karena campak setiap tahun.

Di seluruh dunia, analisis Global Burden of Disease 2026 di Nature Medicine memperkirakan 15,6 juta kasus campak dan 118.000 kematian pada anak di bawah 5 tahun pada 2023. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan vaksinasi campak mencegah hampir 59 juta kematian antara 2000 dan 2024.

Penyebab campak dan faktor risikonya

Anda tertular campak dengan menghirup udara yang mengandung virus. Penderita dapat menularkan sejak 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul, sehingga orang sering menularkannya sebelum tahu dirinya sakit.

Faktor risiko utamanya adalah tidak memiliki kekebalan. CDC mencantumkan kelompok berikut sebagai yang paling mungkin mengalami penyakit berat:

  • anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 20 tahun;
  • ibu hamil;
  • orang dengan sistem kekebalan lemah, misalnya penderita leukemia atau HIV;
  • anak dengan gizi kurang atau kekurangan vitamin A, menurut WHO.

Pada wabah 2025 di Amerika Serikat, 96% pasien yang dilaporkan hingga 17 April belum divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui. Di Indonesia, cakupan imunisasi MR pada 2024 adalah 92% untuk dosis pertama dan 82,3% untuk dosis kedua, masih di bawah target 95%.

Gejala campak dan tanda bahaya

Campak mengikuti urutan waktu yang dapat diperkirakan. Pink Book CDC memberikan rata-rata berikut:

  • Hari ke-11 sampai 12 setelah terpapar: gejala pertama muncul (fase prodromal). Demam naik bertahap, sering hingga 39,4 °C sampai 40,6 °C, disertai "tiga K" dalam istilah medis: batuk, koriza (hidung berair), dan konjungtivitis (mata merah dan berair). Banyak orang juga merasa lelah dan pegal, dan sakit kepala sering terjadi.
  • Sekitar 1 sampai 2 hari sebelum ruam: bercak Koplik, titik-titik kecil putih atau putih kebiruan dengan dasar merah di bagian dalam pipi. Bercak ini khas untuk campak.
  • Sekitar hari ke-14 (rentang 7 sampai 21): ruam campak.

Seperti apa ruam campak?

Ruam campak terdiri dari bintik merah datar, kadang sedikit menonjol, yang dimulai di garis rambut dan di belakang telinga, lalu menyebar ke wajah, leher, badan, lengan, dan kaki. Bintik-bintik ini sering menyatu menjadi bercak, dan demam biasanya memuncak bersamaan dengan ruam. Ruam bertahan 5 sampai 6 hari, lalu memudar sesuai urutan kemunculannya. Banyak penyakit menimbulkan ruam; panduan kami tentang penyebab ruam kulit dan tanda bahayanya menjelaskan perbedaannya. Mata merah pada campak juga bisa dikira sakit mata (konjungtivitis) biasa; kombinasinya dengan demam tinggi dan batuk adalah petunjuknya.

Orang yang sudah divaksinasi lalu terkena campak sering mengalami penyakit yang lebih ringan dan tidak khas, sehingga tes laboratorium menjadi lebih penting.

Komplikasi campak

Sekitar 30% kasus yang dilaporkan di Amerika Serikat dari 1987 hingga 2000 mengalami setidaknya satu komplikasi, menurut CDC. Komplikasi utamanya adalah:

  • Diare dan infeksi telinga, yang sering terjadi dan dapat menyebabkan dehidrasi atau nyeri.
  • Pneumonia, penyebab utama penyakit berat. Dalam tinjauan CDC terhadap 54 pasien rawat inap di Texas Barat pada 2025, 72% mengalami pneumonia dan 70% membutuhkan oksigen.
  • Ensefalitis (radang otak) pada sekitar 1 dari 1.000 kasus, sering dengan kerusakan otak permanen.
  • Kematian pada 1 sampai 3 dari setiap 1.000 anak yang terinfeksi, akibat komplikasi paru atau otak.
  • SSPE, penyakit otak langka yang fatal dan muncul 7 sampai 10 tahun setelah infeksi. Sebuah penelitian di California memperkirakan risikonya 1 dari 1.367 untuk anak yang terinfeksi sebelum usia 5 tahun dan 1 dari 609 untuk yang terinfeksi sebelum usia 12 bulan.
  • Amnesia imun: campak menghapus sebagian ingatan sistem kekebalan terhadap kuman lain, sehingga anak bisa lebih rentan terhadap infeksi lain sesudahnya.

Bagaimana campak didiagnosis?

Dokter mencurigai campak dari gejala dan kemungkinan paparan, lalu memastikannya di laboratorium. Kasus yang dicurigai dilaporkan ke dinas kesehatan, yang sering mengatur pemeriksaan cepat. CDC menganjurkan pengambilan dua jenis sampel pada kunjungan pertama.

Swab RT-PCR dan tes urine

RT-PCR (reverse transcription polymerase chain reaction) mendeteksi materi genetik virus. Sampel yang dianjurkan adalah swab nasofaring (bagian belakang hidung) atau tenggorokan, dan urine dapat ditambahkan. Deteksi paling baik sejak hari pertama ruam hingga 3 hari sesudahnya, tetapi masih bisa berhasil 10 sampai 14 hari setelah ruam muncul. Urine lebih penting daripada yang dikira banyak orang: pada wabah 2025 di Colorado, dua pasien yang sudah divaksinasi memiliki swab hidung negatif tetapi tes urine positif, dan satu pasien masih positif di urine 24 hari setelah ruam dimulai.

Tes darah IgM campak

IgM adalah antibodi pertama yang dibuat tubuh melawan infeksi baru. IgM campak yang positif menunjukkan infeksi yang sedang berlangsung atau baru terjadi. Masalahnya ada pada waktu: IgM mungkin belum terdeteksi hingga sekitar 3 hari setelah ruam mulai, sehingga hasil negatif yang terlalu dini bisa menenangkan secara keliru. CDC menganjurkan sampel darah kedua beberapa hari kemudian jika sampel pertama diambil dalam 3 hari sejak ruam muncul dan RT-PCR negatif atau tidak dilakukan. Positif palsu juga terjadi, misalnya karena faktor reumatoid atau penyakit ruam lain seperti parvovirus B19. Untuk perilaku antibodi ini secara umum, lihat panduan kami tentang hasil tes darah IgM.

Tes IgG campak (titer)

IgG muncul sedikit lebih lambat dan biasanya bertahan seumur hidup. IgG positif saja berarti pernah divaksinasi atau terinfeksi, sehingga Anda dianggap kebal. Saat sakit, kenaikan IgG di antara dua sampel yang diambil berselang sekitar dua minggu mendukung infeksi baru. Jika pertanyaan Anda hanya "apakah saya kebal?", artikel kami tentang tes titer campak menjelaskan kapan tes ini berguna dan kapan catatan vaksin sudah cukup.

Tes darah pendukung

Tes rutin membantu menilai keparahan. Darah lengkap sering menunjukkan jumlah limfosit yang rendah: 74% dari 124 orang dewasa yang dirawat karena campak di Sarajevo pada 2024 mengalami limfopenia. Trombosit kadang rendah. Dalam penelitian Sarajevo itu, C-reactive protein meningkat pada 95% dan enzim hati pada 75% pasien. Pada anak dengan campak berat, dokter juga dapat memeriksa kadar vitamin A (retinol), meskipun pengobatan tidak menunggu hasilnya.

Hasil tes campak: nilai rujukan dan ambang batas

Setiap laboratorium menetapkan batasnya sendiri, jadi bacalah rentang yang tercetak di laporan Anda. Nilai di bawah ini adalah contoh yang sudah dipublikasikan.

TesHasil (satuan konvensional / SI)Arti yang biasa
RT-PCR campak (swab atau urine)Terdeteksi / tidak terdeteksiTerdeteksi = infeksi sedang berlangsung (atau virus vaksin baru-baru ini, lihat di bawah)
IgM campak (contoh ARUP)Di bawah 1:10 negatif; 1:10 atau lebih positifPositif = infeksi primer baru; bisa negatif palsu dalam 3 hari pertama ruam
IgG campak (contoh ARUP)13,4 AU/mL atau kurang negatif; 13,5 sampai 16,4 meragukan; 16,5 atau lebih positifPositif = sudah divaksinasi atau pernah terinfeksi; meragukan = ulangi dalam 7 sampai 14 hari atau vaksinasi
Antibodi penetral (PRN, laboratorium riset)120 mIU/mL atau kurang (0,12 IU/mL)Tidak melindungi dari penyakit dalam sebuah studi wabah CDC
Limfosit (darah lengkap, dewasa)Sering di bawah sekitar 1.000/µL (1,0 × 10⁹/L)Limfopenia, sering terjadi selama campak akut; biasanya pulih dalam beberapa minggu
Retinol serum (vitamin A)Di bawah 20 µg/dL (0,70 µmol/L) kekurangan; di bawah 10 µg/dL (0,35 µmol/L) beratBatas WHO; vitamin A rendah berkaitan dengan campak yang lebih berat

Cara membaca hasil tes campak

Baca hasilnya bersama-sama:

  • PCR positif, dengan demam dan ruam: campak terkonfirmasi. Ikuti anjuran isolasi dari dinas kesehatan.
  • PCR negatif, IgM positif: kemungkinan infeksi baru jika Anda belum divaksinasi dan pernah terpapar; positif palsu mungkin terjadi bila riwayatnya tidak cocok.
  • IgM negatif dalam 3 hari pertama ruam: belum menenangkan. Tanyakan apakah sampel darah kedua atau PCR urine direncanakan.
  • IgG positif, IgM negatif, tanpa gejala: Anda kebal, hasil yang biasa setelah vaksinasi.
  • IgG negatif atau meragukan, tanpa gejala: Anda mungkin tidak terlindungi; vaksinasi biasanya lebih sederhana daripada tes ulang.
  • Ruam 7 sampai 10 hari setelah suntikan vaksin: ini bisa reaksi vaksin. Laboratorium rujukan, termasuk CDC, dapat menguji virus vaksin agar tidak dihitung sebagai kasus campak.

Jika jumlah sel darah putih atau enzim hati Anda tidak normal, panduan kami tentang limfosit rendah dan artikel kami tentang tes fungsi hati menjelaskan arti angka-angka tersebut.

Pengobatan campak dan tindak lanjut

Belum ada antivirus untuk campak yang disetujui FDA. Perawatannya bersifat suportif: cairan, penurun demam dengan parasetamol atau ibuprofen (jangan pernah aspirin pada anak), istirahat, dan pengobatan komplikasi. Antibiotik tidak diberikan secara rutin tetapi dipakai untuk infeksi telinga atau pneumonia akibat bakteri. Ribavirin, antivirus yang menghambat sintesis RNA virus, kadang dipertimbangkan untuk kasus berat di layanan spesialis, tetapi tidak disetujui FDA untuk campak.

Vitamin A untuk campak

CDC menyatakan vitamin A dapat diberikan kepada anak dengan campak di bawah pengawasan medis, dan harus diberikan pada campak berat, termasuk semua anak yang dirawat di rumah sakit. Dosis diberikan pada hari diagnosis dan diulang keesokan harinya: 50.000 IU di bawah 6 bulan, 100.000 IU untuk usia 6 sampai 11 bulan, dan 200.000 IU mulai 12 bulan. WHO menganjurkan ini untuk semua anak di bawah 5 tahun yang dicurigai campak, dengan dosis ketiga 4 sampai 6 minggu kemudian jika ada tanda kekurangan di mata. Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan penderita campak berobat ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vitamin A. Sebuah tinjauan Cochrane menemukan dua dosis menurunkan risiko kematian pada anak di bawah 2 tahun. Vitamin A tidak mencegah campak dan tidak menggantikan vaksin. Dosis tinggi tidak boleh diberikan sendiri, dan ibu hamil harus menghindarinya. Panduan tes darah vitamin A kami menjelaskan arti hasil retinol.

Isolasi dan pemulihan

Penderita campak tetap di rumah, tidak ke sekolah, tempat kerja, atau tempat penitipan anak, hingga 4 hari setelah ruam muncul. Karena amnesia imun, lengkapi imunisasi rutin sesudahnya.

Pencegahan campak: vaksin dan langkah setelah terpapar

Jadwal vaksin campak

  • Anak (jadwal MMR CDC): dosis pertama pada usia 12 sampai 15 bulan, kedua pada 4 sampai 6 tahun. Dosis kedua dapat diberikan lebih awal, setidaknya 28 hari setelah yang pertama.
  • Bayi 6 sampai 11 bulan: satu dosis lebih awal sebelum bepergian ke luar negeri, lalu dua dosis rutin kemudian.
  • Orang dewasa tanpa bukti kekebalan: setidaknya satu dosis; dua dosis berjarak 28 hari untuk mahasiswa, tenaga kesehatan, dan pelancong internasional.
  • Bukti kekebalan: catatan vaksin tertulis, IgG positif, campak yang pernah dikonfirmasi laboratorium, atau lahir sebelum 1957.

Di Indonesia, imunisasi MR gratis dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan dan dosis kedua pada usia 18 bulan, menurut Kementerian Kesehatan; dosis yang terlewat harus segera dikejar. Sekitar 95% anak yang divaksinasi pada usia 12 bulan atau lebih memberi respons terhadap satu dosis, dan lebih dari 99% setelah dua dosis. Efek samping yang umum bersifat ringan: demam pada 5% sampai 15% dan ruam pada sekitar 5%, biasanya 7 sampai 12 hari setelah suntikan. Kejang demam terjadi pada sekitar 1 dari 3.000 sampai 4.000 dosis. Vaksin ini adalah vaksin hidup dan tidak diberikan selama kehamilan; kehamilan sebaiknya dihindari selama 4 minggu setelah satu dosis.

Setelah terpapar: bertindak dalam 72 jam

  • Vaksin dalam 72 jam setelah terpapar dapat mencegah campak atau membuatnya lebih ringan pada orang yang tidak kebal.
  • Imunoglobulin (IG) dalam 6 hari dipakai bila vaksin tidak mungkin diberikan: bayi di bawah 12 bulan, ibu hamil yang tidak kebal, dan orang dengan kekebalan sangat lemah. Dosis intramuskular adalah 0,5 mL/kg (maksimal 15 mL); orang dengan kekebalan sangat lemah dan ibu hamil menerima bentuk intravena (400 mg/kg).
  • Vaksin dan IG tidak diberikan bersamaan.

Sebuah tinjauan sistematis 2025 memperkirakan efektivitas vaksin yang diberikan setelah terpapar sebesar 83% sampai 100%, dan imunoglobulin 76% sampai 100%, sambil mencatat bahwa penelitiannya kecil.

Campak pada kehamilan, anak, dan orang dewasa yang lebih tua

Kehamilan: campak meningkatkan risiko penyakit berat, keguguran, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah, menurut WHO. Vaksin campak tidak dapat diberikan selama kehamilan, itulah sebabnya kekebalan diperiksa sebelum atau di awal kehamilan, seperti dijelaskan dalam panduan kami tentang tes darah selama kehamilan. Ibu hamil yang tidak kebal dan terpapar harus menghubungi dokter pada hari yang sama untuk membahas imunoglobulin intravena.

Bayi: bayi terlalu muda untuk vaksin rutin dan memiliki risiko SSPE tertinggi. Dalam tinjauan rumah sakit di Texas Barat, 91% pasien rawat inap berusia di bawah 18 tahun. Anak dengan campak sebaiknya mendapat vitamin A seperti dijelaskan di atas.

Orang dewasa yang lebih tua: orang yang lahir sebelum 1957 dianggap kebal menurut CDC. Orang dewasa di atas 20 tahun yang terkena campak berisiko lebih tinggi mengalami penyakit berat.

Kapan harus ke dokter

Hubungi dokter, klinik, puskesmas, atau dinas kesehatan sebelum datang jika Anda atau anak Anda demam disertai ruam, atau bergejala setelah kemungkinan terpapar, dan sampaikan bahwa mungkin ini campak. Segera hubungi juga jika Anda terpapar dan sedang hamil, punya sistem kekebalan lemah, atau punya bayi yang belum divaksinasi, karena jendela pengobatannya singkat (72 jam untuk vaksin, 6 hari untuk imunoglobulin).

Hubungi 119 atau 112 untuk tanda gawat darurat: sulit bernapas, bibir kebiruan, kejang, sangat mengantuk atau bingung, kaku kuduk, tanda dehidrasi (tidak buang air kecil selama 8 jam atau lebih, tidak ada air mata), atau bayi yang tidak mau menyusu.

Kemajuan ilmiah terbaru tentang campak

Wabah terbaru di Amerika Serikat menunjukkan siapa yang berakhir di rumah sakit

Peneliti CDC meninjau 54 pasien yang dirawat di rumah sakit di Texas Barat pada awal 2025. Semuanya belum divaksinasi atau statusnya tidak diketahui, 89% tidak punya penyakit dasar, dan 72% mengalami pneumonia. Sekitar 1 dari 5 penderita campak dalam wabah itu membutuhkan perawatan rumah sakit. Artinya bagi Anda: campak bukan "sekadar ruam" bagi anak yang sehat.

Sampel urine dan air limbah menangkap kasus yang terlewat oleh swab

Laporan CDC 2026 tentang wabah di Colorado menemukan RNA campak di urine ketika swab hidung negatif pada pasien yang sudah divaksinasi, dan para penulis menganjurkan pengambilan urine secara rutin. Di Wisconsin, pemeriksaan air limbah mendeteksi satu kasus impor sebelum diketahui secara klinis, dan juga mengungkap bahwa sebuah tes yang banyak dipakai melewatkan varian B3 yang beredar, yang kemudian diperbaiki. Artinya bagi Anda: sampel urine meningkatkan peluang mendapat jawaban yang benar.

Campak menghapus ingatan kekebalan

Sebuah penelitian penting tahun 2019 di Science menemukan bahwa campak menghapus 11% sampai 73% repertoar antibodi yang sudah dimiliki anak, efek yang tidak terlihat setelah vaksinasi MMR. NIAID kini meneliti amnesia imun setelah campak di Afrika (NCT06153979). Artinya bagi Anda: vaksin melindungi lebih dari sekadar campak itu sendiri.

Plester vaksin dan dosis ketiga

Dalam uji klinis Lancet 2024 di Gambia, plester mikrojarum vaksin campak dan rubela membuat 93% bayi membentuk antibodi campak, dibanding 90% setelah suntikan standar, dengan reaksi kulit yang ringan saja. Di Kanada, sebuah studi yang sedang berjalan menguji apakah dosis ketiga MMR bermanfaat bagi orang dewasa (NCT05923970). Artinya bagi Anda: vaksin yang lebih mudah diberikan dapat membantu menutup kesenjangan cakupan, tetapi dosis ketiga saat ini tidak dianjurkan secara rutin.

Tes apa yang dapat membantu?

Jika dicurigai campak, tes penentunya adalah swab RT-PCR bersama urine dan tes darah IgM campak. Untuk memeriksa kekebalan, tes IgG sudah cukup. Di sampingnya, darah lengkap, CRP, enzim hati, dan elektrolit menunjukkan seberapa berat infeksinya. Tes yang membedakan infeksi virus dan bakteri dapat memandu keputusan antibiotik, seperti dijelaskan dalam artikel kami tentang tes darah untuk infeksi bakteri atau virus. Ruam yang muncul setelah minum antibiotik mungkin reaksi obat, seperti dalam panduan kami tentang ruam akibat amoksisilin. Halaman kami tentang kadar trombosit memberikan rentang normalnya.

Glosarium

  • Koriza: hidung berair dan tersumbat.
  • Bercak Koplik: bintik putih kecil di bagian dalam pipi yang muncul sesaat sebelum ruam campak.
  • RT-PCR: metode laboratorium yang mendeteksi materi genetik virus dalam swab, urine, atau darah.
  • IgM: antibodi pertama yang dibuat melawan infeksi baru; menghilang dalam beberapa minggu.
  • IgG: antibodi jangka panjang yang menunjukkan kekebalan dari vaksinasi atau infeksi sebelumnya.
  • Titer: ukuran banyaknya antibodi dalam darah. Lihat juga panduan tes darah IgG kami.
  • Limfopenia: jumlah limfosit, salah satu jenis sel darah putih, yang rendah.
  • SSPE: subacute sclerosing panencephalitis, komplikasi otak campak yang muncul belakangan.
  • Amnesia imun: hilangnya ingatan kekebalan terhadap kuman lain akibat campak.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu pemeriksaan morbili (campak)?

Dokter menilai gejala dan riwayat paparan, lalu memastikannya dengan tes RT-PCR pada swab hidung atau tenggorokan (dan urine) serta tes darah IgM campak. Tes IgG dipakai untuk memeriksa kekebalan.

Apa gejala awal campak?

Demam tinggi, batuk, pilek, mata merah berair, dan lelah, yang mulai sekitar 11 sampai 12 hari setelah terpapar. Bercak Koplik di bagian dalam pipi dapat muncul 1 sampai 2 hari sebelum ruam.

Apakah campak menyebabkan sakit kepala?

Ya. Sakit kepala sering terjadi bersama demam tinggi di fase awal. Sakit kepala hebat dengan kaku kuduk, kebingungan, rasa sangat mengantuk, atau kejang dapat menandakan ensefalitis dan memerlukan pertolongan darurat.

Berapa banyak orang yang meninggal karena campak tahun lalu?

Pada 2025, CDC melaporkan tiga kematian akibat campak di Amerika Serikat hingga 17 April, dari 2.289 kasus terkonfirmasi sepanjang tahun. Halaman nasionalnya, yang diperbarui 6 November 2026, mencantumkan 4 kematian dan mencatat bahwa angka ini dapat berubah. Di seluruh dunia, WHO memperkirakan sekitar 95.000 kematian akibat campak pada 2024; di Amerika Serikat, 1 sampai 3 dari setiap 1.000 anak dengan campak meninggal.

Apa yang harus dilakukan jika terkena campak?

Telepon dokter atau puskesmas sebelum datang, tetap di rumah dan jauhi orang lain hingga 4 hari setelah ruam muncul, minum banyak cairan, turunkan demam dengan parasetamol, dan pastikan anak mendapat vitamin A. Segera ke IGD jika ada sesak napas, kejang, atau dehidrasi.

Apakah orang yang sudah divaksin bisa terkena campak?

Jarang. Dua dosis efektif 97% dan satu dosis 93%. Orang yang sudah divaksinasi lalu terkena campak biasanya mengalami gejala yang lebih sedikit dan lebih ringan.

Kapan anak campak boleh keluar rumah?

Anak dapat kembali ke sekolah atau tempat umum setelah masa isolasi berakhir, yaitu 4 hari setelah ruam muncul, asalkan demam sudah turun dan anak merasa cukup sehat. Jika ruam muncul 7 sampai 10 hari setelah vaksin, itu biasanya reaksi vaksin dan bukan kasus campak.

Sumber

  • CDC — Measles Cases and Outbreaks (updated November 6, 2026) — CDC, 2026 — cdc.gov
  • CDC — Clinical Overview of Measles — CDC, 2026 — cdc.gov
  • CDC — Laboratory Testing for Measles — CDC, 2024 — cdc.gov
  • CDC — Measles Serology Testing — CDC, 2024 — cdc.gov
  • CDC — Measles Vaccine Recommendations — CDC, 2026 — cdc.gov
  • CDC — Pink Book, Chapter 13: Measles — CDC, 2024 — cdc.gov
  • MedlinePlus — Measles and Mumps Tests — National Library of Medicine, 2025 — medlineplus.gov
  • WHO — Measles fact sheet — World Health Organization, 2026 — who.int
  • WHO — Serum retinol concentrations for determining the prevalence of vitamin A deficiency in populations — World Health Organization, 2011 — who.int
  • ARUP Laboratories — Measles (Rubeola) Antibodies, IgG and IgM, test 0050375 — ARUP, 2026 — aruplab.com
  • Mathis AD et al. — Measles Update, United States, January 1–April 17, 2025 — MMWR, 2025 — doi.org
  • Wang D et al. — Characteristics of Patients Hospitalized with Measles During an Outbreak, West Texas, January–March 2025 — MMWR, 2026 — doi.org
  • Metz AR et al. — Measles Outbreak Associated with an Infectious Traveler, Colorado, May–June 2025 — MMWR, 2026 — doi.org
  • Pray I et al. — Genotype-Specific Detection of Measles Virus Using Wastewater Surveillance, Wisconsin, February 2026 — MMWR, 2026 — doi.org
  • McLean HQ et al. — Prevention of measles, rubella, congenital rubella syndrome, and mumps, 2013: ACIP summary recommendations — MMWR Recommendations and Reports, 2013 — pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
  • Mina MJ et al. — Measles virus infection diminishes preexisting antibodies that offer protection from other pathogens — Science, 2019 — doi.org
  • Wendorf KA et al. — Subacute Sclerosing Panencephalitis: The Devastating Measles Complication That Might Be More Common Than Previously Estimated — Clinical Infectious Diseases, 2017 — doi.org
  • Huiming Y et al. — Vitamin A for treating measles in children — Cochrane Database of Systematic Reviews, 2005 — doi.org
  • Montroy J et al. — Post-exposure prophylaxis for the prevention of measles: a systematic review — Vaccine, 2025 — doi.org
  • Adigweme I et al. — A measles and rubella vaccine microneedle patch in The Gambia: a phase 1/2 randomised trial — The Lancet, 2024 — doi.org
  • GBD 2023 collaborators — Global and regional burden of measles and vaccine coverage among children under 5 years, 1990–2023 — Nature Medicine, 2026 — doi.org
  • Hasanefendić B et al. — Laboratory parameters, clinical characteristics and hemogram-derived indices in adult patients with measles — Medicinski Glasnik, 2026 — doi.org
  • Chen RT et al. — Measles antibody: reevaluation of protective titers — Journal of Infectious Diseases, 1990 — doi.org
  • NIAID — Investigation of Immune Amnesia Following Measles Infection in Select African Regions (NCT06153979) — ClinicalTrials.gov, 2024 — clinicaltrials.gov
  • University of Alberta — Is a Third Dose of MMR(V) Vaccine Beneficial for the Adult Population in Alberta? (NCT05923970) — ClinicalTrials.gov, 2024 — clinicaltrials.gov
  • Kementerian Kesehatan RI — KLB Campak Meningkat, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi Lengkap — Kemenkes RI, 2025 — kemkes.go.id
  • Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI — Apa itu Penyakit Campak? — Kemenkes RI, 2024 — keslan.kemkes.go.id

Bacaan lanjutan

Pahami hasil laboratorium Anda dengan AI DiagMe

Pemeriksaan campak sering disertai laporan lengkap: antibodi, darah lengkap, CRP, dan enzim hati. AI DiagMe membaca laporan laboratorium Anda dalam hitungan menit, menjelaskan setiap nilai dengan bahasa sederhana, dan menyarankan pertanyaan untuk dokter Anda. Unggah hasil Anda dan dapatkan penjelasan yang jelas dengan AI DiagMe.

Tim editorial

  • AI DiagMe

    Pengarang

    Tim AI DiagMe menyatukan para dokter, spesialis klinis, dan editor medis. Artikel-artikel kami ditulis oleh para profesional komunikasi kesehatan dan kemudian ditinjau serta divalidasi oleh para dokter dari komite ilmiah kami, yang terdiri dari dokter rumah sakit yang berpraktik di berbagai spesialisasi seperti hematologi, endokrinologi, dan kedokteran umum. Julien Priour, yang memimpin misi editorial, memegang gelar MBA dari HEC Paris dan dilatih dalam penulisan dan penerbitan ilmiah oleh Institut Penelitian Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan (IRD, FUN-MOOC, 2026). Setiap konten didasarkan pada pedoman klinis terkini dan publikasi medis yang ditinjau oleh rekan sejawat.

    E-mail Situs web
  • Julien Priour

    Disunting oleh

    Pendiri dan CEO AI DiagMe · Editor medis senior · Lulusan HEC Paris

    Julien Priour adalah editor medis senior di AI DiagMe yang mengawasi arah editorial dan proses pemeriksaan fakta. Lulusan HEC Paris, ia memiliki pengalaman 3 tahun di bidang penerbitan kesehatan dan telah mendapatkan pelatihan penulisan dan publikasi ilmiah dari Institut Penelitian Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan (IRD, FUN-MOOC, 2026). Ia memastikan setiap artikel mengikuti pedoman medis yang berlaku serta ditinjau dan divalidasi oleh seorang dokter dari komite ilmiah dan etik. Ia menetapkan standar sumber rujukan (HAS, Ameli, INSERM…) dan standar peninjauan yang diterapkan di seluruh situs.

    E-mail LinkedIn
  • Dokter Claude Tchonko

    Ditinjau secara medis oleh

    Dokter Claude Tchonko adalah dokter spesialis hematologi yang berpraktik sejak 2013 dan saat ini bertugas di Clinique Mas de Rochet (Castelnau-le-Lez, Prancis). Dengan latar belakang internasional, ia mengkhususkan diri dalam penanganan keganasan hematologi (leukemia, limfoma, mieloma), dengan keahlian khusus dalam transplantasi sel punca autologus, terapi sel CAR-T, serta optimalisasi alur layanan di bidang onko-hematologi.

    Sebagai penulis buku rujukan “Keganasan Hematologi Limfoid di Mali”, ia memadukan praktik klinis dengan keterlibatan aktif dalam proyek pengembangan solusi teknologi kesehatan.

    Ia meraih gelar Doktor Kedokteran Negara (Fakultas Kedokteran Bamako, 2006) dan melengkapi pendidikannya dengan Sertifikat Studi Spesialis Hematologi Bioklinis (Abidjan-Cocody, 2010) serta beberapa diploma universitas: DFMS Hematologi dan diploma antaruniversitas (DIU) Sitogenetika Onko-Hematologi (Grenoble), serta diploma universitas (DU) tentang penyakit sel sabit berat (UPEC).

    Dokter Claude Tchonko LinkedIn

Artikel Terkait

Segera hadir